Pernahkan Anda mendengar tradisi perang pandan di Bali? atau orang lokal menyebutnya dengan “Megeret Pandan”. Megeret Pandan adalah salah satu tradisi yang ada di Bali dimana tradisi ini merupakan persembahan yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra (Dewa Perang) dan para leluhur. Upacara perang pandan ini diadakan di Desa Tenganan, Karangasem Bali yang letaknya kurang lebih 70 Km sebelah timur pusat kota.
Yuk cari tahu sejarah perang pandan ini!
Konon menurut cerita, pada zaman dahulu kawasan Desa Tenganan dan sekitarnya diperintah oleh seorang raja yang bernama Maya Denawa yang kejam. Ia bahkan menjadikan dirinya sebagi Tuhan dan melarang orang Bali melakukan ritual keagamaan. Mendengar hal itu, Para Dewa di surga pun murka lalu para Dewa mengutus Dewa Indra untuk menyadarkan Maya Denawa dengan cara mengangkat Dewa Indra sebagai panglima Perang atau pemimpin pertempuran. Melalui pertempuran sengit dan banyak memakan korban, akhirnya Maya Denawa pun dapat terkalahkan. Nah dari situlah peperangan antara Dewa Indra dan Maya Denawa kini diperingati oleh masyarakat Desa Tenganan dengan upacara Perang Pandan dan masyarakat Desa Tenganan juga mempercayai bahwa Dewa Indra adalah Dewa dari segala Dewa, dan menurut cerita sejarahnya Desa Tenganan adalah hadiah dari Dewa Indra pada wong peneges, leluhur Desa Tenganan, sementara umat hindu Bali pada umumnya menjadikan Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa (sebagai Dewa tertinggi).
Lalu, bagaimana pelaksanaan perang pandan ini?
Perang pandan ini dilakukan setiap satu tahun sekali yaitu pada bulan kelima atau sasih kelima dalam penanggalan Desa Adat Tenganan. Ritual perang pandan ini berlangsung kurang lebih selama dua hari berturut-turut hingga selesai selama tiga jam. Upacara perang pandan ini biasanya dilakukan di Desa Tenganan tepatnya di depan balai pertemuan Desa Adat Tenganan. Dalam perang pandan ini perlengkapan yang digunakan yaitu pandan berduri sebagai senjata perang. Dimana pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Perlengkapan yang perlu disiapkan juga adalah panggung yang berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi, dengan tinggi sekitar 1 meter tanpa tali pengaman mengelilinginya. Untuk peserta perang pandan juga dianjurkan untuk membawa sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang itu terbuat dari rotan yang dianyam. Pada pelaksanaan perang pandan biasanya akan di iringi oleh musik gamelan seloding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yag disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah. Untuk pelaksanaan perang pandan ini biasanya dilakukan oleh pemuda Desa Tenganan dan luar Desa Tenganan. Pemuda yang berasal dari dalam berperan sebagai peserta perang pandan sedangkan pemuda dari luar desa akan sebagai pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga boleh ikut serta dalam upacara megeret pandan ini. Upacara ini juga dapat menjadi simbol untuk seorang anak yang sudah beranjak dewasa. Peserta yang ikut dalam perang pandan ini biasanya akan memakai pakaian adat Tenganan yang bernama kain tenun pegringsingan. Para pria yang ikut biasanya hanya menggunakan sarung atau disebut kamen, selendang atau saput dan ikat kepala atau udeng. Para pria tersebut juga tidak menggunakan baju.
Wah, seru banget ya? Tapi, ceritanya tidak sampai disitu saja. Ada beberapa aturan yang harus diikuti sebelum melakukan tradisi ini, mimin Tripkuy.id telah mencantumkannya sebagai berikut ya:
Pelaksanaan upacara perang pandan akan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada para Dewa. Setelah mengelilingi desa, upacara akan dilanjutkan dengan ritual minum tuak (minuman beralkohol khas Bali) bersama. Tuak kemudian dikumpukan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat (orang suci) akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Lalu dua pemuda bersiap-siap. Mereka berhadap-hadapan dengan seikat daun pandan ditangan kanan dan perisai terbuat dari anyaman rotan itu ditangan kiri mereka. Penengah layaknya seorang wasit akan berdiri diantara dua pemuda ini untuk memulai perang. Setelah penengah mengangkat tangan tinggi-tinggi, dua pemuda itu pun saling menyerang. Mereka pun saling memukuli punggung lawan menggunakan pandan dengan cara menggeretnya. Karna itulah ritual ini disebut megeret pandan. Peserta yang lain saling bersorak memberi semangat. Gamelan pun ditabuh dengan tempo yang cepat dan dua pemuda itu saling bersemangat untuk saling menggeret lawannya selama satu menit lalu bergantian dengan pasangan yang lain. Ya, meskipun tubuhnya terluka dan berdarah, para peserta pun tetap terlihat senang dan tidak ada dendam diantara mereka karena hal itu adalah salah satu ungkapan rasa syukur mereka dan cara mereka untuk menghormati Dewa Indra. Setelah perang selesai, peserta yang terluka akan diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. Acara selanjutnya akan dilanjutkan dengan melakukan upacara persembahyangan di Pura setempat dengan di lengkapi dengan persembahan tari Rejang (tari keagamaan umat Hindu di Bali).
Nah, sekian informasi mengenai perang pandan di Bali. Jadi, sudah semakin banyak pengetahuan tentang Bali yang membuat kalian makin cinta dengan Bali kan? Kalau begitu, ngetrip ke Bali kuy!
Comment (0)